Postingan

Mengeluh. Boleh?

Kata orang, hidup itu gak boleh mengeluh. Mengeluh gak bakal menghasilkan sesuatu yang positif. Mengeluh juga gak bakalan merubah keadaan. Tapi kita semua sering ngeluh kan? Hidup bukan berarti tidak boleh mengeluh. Boleh saja mengeluh, hanya untuk meluapkan yang dirasakan. Setelah itu lupakan. Setidaknya, rasa yang mengganjal sudah berkurang. Mengeluh bukan berrti tak bersyukur. Mengeluh hanya sebagai luapan. Cukup sementara saja. Bukankah itu manusiawi? Adakalanya kamu lelah, dan terucap "saya lelah". Tapi,  bukan berarti dengan berkata "saya lelah" adalah kalah,  bukan berart dengan berkata "saya lelah" adalah tidak mau kembali melangkah.  Rasa lelah itu manusiawi.  Ketika lelah terucap juga bukan berarti itu masalah.  Lelah sebagai pengingat kalau langkah didepan masih panjang. Masih banyak yg harus dipersiapkan. Sehingga setelah lelah bisa mempersiapkan dengan matang untuk kembali melangkah. Catatan: Tulisan diatas cuma...

Selamat Tahun Baru 2016

Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, F: Here I am. Mahasiswa pasca Wisuda yang... entah mau kemana. "keputusan yang diambil dari proses berpikir panjang dan melibatkan berbagai aspek pertimbangan, saat itulah takdir kita tentukan. takdir seseorang ditentukan oleh seseorang itu sendiri.namun segala kemungkinan yang terjadi, sudah jauh tercatat sebelumnya di Sana, jadi tidak ada kebetulan" (Saya, 2015) Punya quote sendiri yang jadi prinsip hidup sendiri gak salah kok. Setidaknya masih dalam lingkup positive dan gak bikin jadi salah arah. Situasi dan kondisi pasca wisuda ini bikin jadi pertimbangan semua orang. "Mau ngapain habis ini?". Yaa, yang pasti jadi petimbangan beberapa orang yang hidupnya memang masih mengambang. Euforia pasca wisuda memang melenakan, tapi menganggur berkepanjangan jauh lebih menyedihkan. Sampai fase ini saya baru menyadari, bangku kuliah begitu nyaman. Proses kuliah selama 4 tahun, jadwal, tugas, materi, ujian semua tinggal dijalankan....

Belajar bisa dimana aja: Museum Benteng Vredeburg

Ya saya disini, sedang disini Gedung F Museum Benteng Vredeburg. Bermula dari iseng, dibantuin pak dosen baik hati, dan didukung kekhawatiran berlebih nganggur pasca skripsi. Yes, finally, Quonita Hassan S.Ars. I'm officially Bachelor of Architecture. Yuhuu, selesai (belom wisuda sih tapi). Walopun ketinggalan jauh sama temen-temennya. Setidaknya saya bisa nyelesaikan tanggung jawab ke mamah, ke orang tua saya, ke keluarga saya. Alhamdulillah... Jadi, pasca selesai pendadaran, saya mulai meyelesaikan semuanya. Revisi, nilai, perpustakaan, dan berkas wisuda. Selesai, habis itu? Bangun siang, tidur-tiduran dikamar dari pagi sampe malem lagi bangun lagi tidur lagi. Gak ada kerjaan. Nyari-nyari kesibukan ngerjain skripsi orang. Hasilnya, saya bosan. Soalnya gak ada aktifitas diluar rumah. Dan terctus ide, saya magang. Setelah urus kanan kiri, ngajuin kanan kiri, sampailah saya sekarang disini. Di kantor yang orang-orangnya gak ada lulusan arsitektur (kayaknya). Niatnya mau belaj...

Sendiri-(an). Blah!

Manusia merupakan makhluk sosial, makhluk yang membutuhkan orang lain. Membutuhkan bantuan orang lain. Itu kenapa terjadi hubungan sosial, keluarga, pertemanan, persahabatan, pacaran, pernikahan, dsb. Dari adanya hubungan tersebut tercipta perasaan saling menyayangi, melindungi, menghormati, membutuhkan dan sebagainya. Mencintai keluarga, menyayangi ibu, bapak, adek, kakak, teman, sahabat. Tapi ada saatnya, untuk kita perlu sendiri. Menikmati diri sendiri, berbicara dengan diri sendiri, dan bermain dengan diri sendiri. Saya tipe orang yang senang "jalan" sendiri. Melakukan kegiatan seorang diri bukan merupakan hal aneh menurut saya. Bahkan ada saat saya lebih membutuhkan waktu sendiri untuk melakukan kegiatan tertentu. Misal, beli buku dan hunting foto. Membeli buku saya lebih sering sendirian, kenapa? Saya malas diganggu, malas ditanya-tanya. Memilih buku baru merupakan momen indah yang harus dinikmati, saya menyeleksi dan memilih, apa yang saya mau, seberapa lama saya...

Berteman

Kemarin dan hari ini saya banyak menghabiskan waktu untuk berbagi, bercerita, berkeluh kesah, berbahagia. Tentang banyak hal, tentang apapun, tentang segalanya. Saya nyaman? Tentunya dengan mereka yang membuat saya bisa senyaman yang saya inginkan, bercerita semau yang saya utarakan, dan kembali mendengarkan cerita mereka dengan membuka daun telinga lebar-lebar. Mungkin bukan sekedar cerita, tapi berbagi.  Berteman menurut hasil analisa ilmu ngawur kira-kira saya, bagaimana kita bisa menjadi diri kita saat sedang dalam keadaan seburuk-buruknya kita, senorak-noraknya kita, bahkan setinggi-tingginya kita. Dan kita dengan rela berbagi kegilaan, kesedihan, kesusahan. Teman? Bagaimana dia mengerti seutuhnya kita. Begitu sebaliknya. Tapi, saya sendiri masih mengkotak-kotakkan pertemanan. Membuat batas pada teman. Teman bercerita, teman berbelanja, teman bermain. Dan saya tidak merasa berkewajiban untuk menceritakan segala sesuatunya tentang saya pada teman. Kecuali bercerita bagai...

Hidup di era "Hits"

Ehem, saya mau curhat sedikit :D Mungkin ini yang namanya tambah kuper,  bisa juga mulai sadar tanggung jawab. Bisa juga mulai gak eksis dan kuno, kata anak jaman sekarang... Sekarang lagi hidup di era yang namanya nyamperin cafe yang lagi hits, terus foto makanan aplot di instagram, habis itu chek-in tempat di path sambil foto, entah foto interiornya apa foto bareng. Kadang malah nyamperin cafe bukan karena emang enak apa lagi laper apa gimana. Tapi karena interiorya bagus. Haha, memang lagi masanya dan ini gak salah. Dan semua orang berlomba-lomba buat ngeksis didunia maya.  Dulu, jaman saya pertama kuliah, tujuan saya kuliah cuma satu. Banyak temen terus main kesana kemari, nyamperin tempat yang katanya lagi "in". Biar eksis juga, katanya. Pulang malam, kadang nginap, bolos kuliah cuma pengen karaoke, bolos kuliah kadang cuma udah mager di kostan temen. Yang penting ada temennya. All about fun! Tapi semua gak berlangsung lama.. Entah saya orangnya emang...

Sometimes

Sometimes, berat sekali untuk menengok kebelakang. Padahal ada banyak pelajaran. Kesalahan memang bukan untuk diulang. Tapi bukankan jika dilihat dan diingat kembali rasanya masih memalukan? Sometimes, berhadapan dengan masa lalu membuat seolah hal yang tak mengenakkan, sedang kembali menertawakan. Menutup semua pintu memang bukan solusi yang harus dilakukan, tapi bukankah pintu ditutup juga untuk dibuka? Sometimes, ingin sekali bisa bersua dengan yang telah berlalu. Tapi rasa malu masih lebih besar dari asaku. Dan sampai kapan, aku tidak tau. -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Thanks, Qonet :)